ANAK ASMA
KARNA TERPAPAR ROKOK AYAH SENDIRI
Sudah menjadi rahasia umum jika rokok memiliki efek yang buruk bagi
perokok aktif maupun pasif. Seseorang yang menghirup asap rokok
dari perokok aktif disebut perokok pasif. Paparan
asap rokok dapat menyebabkan penyakit serius hingga kematian.
Anak-anak pun bisa menjadi korban dari asap rokok.
Anak-anak yang terpapar asap rokok sangat beresiko terhadap kesehatannya, salah
satunya akan terkena penyakit asma. Risiko ini akan terus meningkat seiring mereka beranjak
dewasa. Fisik mereka yang masih dalam masa pertumbuhan
membuatnya sangat rentan terhadap efek asap rokok. Selain itu mereka juga
memiliki frekuensi bernafas yang lebih tinggi daripada orang dewasa. Hal ini
menyebabkan asap rokok masuk ke dalam paru-paru lebih cepat. Anak-anak yang
memiliki asma sebaiknya berada jauh-jauh dari asap rokok. namun sayangnya,
anak-anak justru sering terpapar asap rokok dari tempat tinggalnya sendiri,
yakni ketika ayah atau ibunya merokok. Asap rokok hanya akan membuat kesehatan
paru-paru anak memburuk. Tapi nyatanya masih sangat sedikit
yang sadar akan hal ini.
Tim peneliti dari 25 studi yang melibatkan lebih dari 430
ribu anak-anak menyatakan bahwa anak-anak yang memiliki asma 66% lebih berisiko
mengalami kesehatan yang memburuk jika menjadi perokok pasif. Mereka akan
mengalami risiko tiga kali lipat memburuknya fungsi paru-paru dan 32% lebih
tinggi terkena gejala mengi jika berada di sekitar perokok. Selain itu Peneliti
senior dokert Avni Joshi yang merupakan seorang ahli alergi dan imunologi di
Mayo Clinic Children’s Center di Rochester, Minnesota mengatakan bahwa
kebiasaan orangtua merokok depan anak juga memungkinkan anak merokok pada usia
lebih muda. “Anak-anak akan belajar dari perilaku orangtua Mereka tidak akan
mulai merokok jika tidak mengamati orangtuanya menggunakan tembakau,” kata
Joshi.
Menurut WHO, diperkirakan 235 juta orang di seluruh dunia
menderita asma. Asma merupakan penyakit kronis yang tidak bisa disembuhkan.
Serangannya bisa tiba-tiba sesak napas dan mengi. Saat serangan terjadi,
lapisan tabung bronkial membengkak, terjadi penyempitan saluran udara sehingga
membatasi aliran udara keluar dan masuk dari paru-paru. Untuk mendiagnosis asma
pada anak memang hal yang sulit, namun terdapat gejala utama yang menunjukkan
buah hati Anda mengidap asma, yakni mengi batuk, sesak napas, dam(suara bernada
tinggi atau pelan saat mengembuskan napas). Berikut ini adalah gejala-gejala
asma yang umumnya dialami:
-
Batuk yang berkepanjangan dan tak kunjung
sembuh.
-
Saat beraktivitas, anak tampak lemas,
sering batuk, dan kurang bertenaga.
-
kesulitan bernapas. Jika anak Anda
masih bayi, si kecil akan kesulitan bernapas saat menyusui atau memberinya
makan. Kulit tampak biru, lemas, anak tampak kurang aktif adalah tanda-tanda
gawat napas yang harus segera dibawa ke dokter.
-
Tarikan napas yang pendek dan cepat.
-
Otot leher dan dada menjadi kencang.
-
sering merasakan sesak dan tidak nyaman di
dada.
Pada beberapa anak dan situasi
tertentu, gejala bisa menjadi makin parah. Hal tersebut dapat diamati jika anak
tersengal-sengal saat menarik napas, perut mengempis ke bawah tulang rusuk
karena sulitnya menarik napas, napas terengah-engah dan cepat hingga membuat
anak bicara dengan terbata-bata, dan
alat bantu pernapasan tidak mampu membantu meredakan kesulitan bernapas. Jika
beberapa hal tersebut terjadi, segera bawalah anak Anda ke rumah sakit terdekat
untuk mendapatkan penanganan yang optimal.
Bagaimana Menangani Asma pada
Anak?
Asma adalah penyebab utama penyakit kronis pada
anak-anak. Penyakit ini dapat dimulai pada usia berapa pun, namun kebanyakan
anak-anak mengalami gejala pertama pada usia 5 tahun. Asma memang
dapat
dikendalikan, tapi tidak dapat disembuhkan. Tujuan pengobatan asma pada
anak-anak adalah menemukan metode pengobatan dengan dosis yang tepat dan efek
samping seminimal mungkin agar anak dapat tetap menjalani aktivitas sehari-hari
dengan normal, meminimalisasi gejala dan kunjungan ke
dokter.
Beberapa pengobatan untuk asma
pada anak, di antaranya:
-
Obat pereda asma reaksi cepat.
Obat-obatan ini biasanya dikonsumsi hanya
pada saat terjadi serangan asma, terutama pada serangan asma berat, berfungsinya sebagai pereda. Biasanya juga
digunakan sebelum aktivitas olahraga, jika aktivitas tersebut diketahui
merupakan salah satu pemicu terjadinya serangan asma. Obat-obatan jenis ini
memang bereaksi cepat dalam meredakan gejala asma, namun tidak dapat
menyembuhkannya. Beberapa jenis obat-obatan reaksi cepat yaitu pereda asma
reaksi cepat atau Short-Acting Beta Agonists (SABA) yang
berpengaruh dalam hitungan menit dengan efek yang dirasakan hingga beberapa
jam. Lalu ada kortikosteroid oral dan suntikan yang memiliki manfaat untuk
menurunkan peradangan saluran napas akibat serangan asma, serta ipratropium
yang dapat membuat pernapasan lebih ringan dengan cara melemaskan saluran
pernapasan.
-
Obat pereda asma reaksi cepat.
Obat-obatan ini biasanya dikonsumsi hanya
pada saat terjadi serangan asma, terutama pada serangan asma berat, dan
berfungsi sebagai pereda. Biasanya juga digunakan sebelum aktivitas olahraga,
jika aktivitas tersebut diketahui merupakan salah satu pemicu terjadinya
serangan asma. Obat-obatan jenis ini memang bereaksi cepat dalam meredakan
gejala asma, namun tidak dapat menyembuhkannya. Beberapa jenis obat-obatan
reaksi cepat yaitu pereda asma reaksi cepat atau Short-Acting Beta
Agonists (SABA) yang berpengaruh dalam hitungan menit dengan efek yang
dirasakan hingga beberapa jam. Lalu ada kortikosteroid oral dan suntikan yang
memiliki manfaat untuk menurunkan peradangan saluran napas akibat serangan
asma, serta ipratropium yang dapat membuat pernapasan lebih ringan dengan cara
melemaskan saluran pernapasan.
-
Obat pencegah asma jangka panjang.
hal ini akan mencegah terjadinya serangan
asma dan mengurangi gejala yang ada. Terdapat beberapa jenis dari obat ini,
yaitu Long-Acting Beta Agonist (LABA) atau pereda asma reaksi
lambat digunakan untuk membuka saluran pernapasan yang sempit dan mengurangi
peradangan, inhaler kombinasi untuk mencegah serangan asma, serta leukotriene
modifiers dan teofilin untuk memudahkan pernapasan
dengan melemaskan otot di sekitar saluran napas. Ada juga kortikosteroid hirup (inhaled corticosteroids) untuk pencegahan serangan asma.
Obat ini adalah golongan obat yang dianggap paling baik untuk mengobati asma
dalam jangka panjang.
-
Alat bantu.
Selain obat-obatan yang dikonsumsi, terdapat
alat bantu yang biasanya digunakan untuk membantu memudahkan pernapasan anak.
Perawatan dengan alat bantu ini umumnya diberikan empat kali sehari dalam waktu
10-15 menit, namun frekuensinya tergantung pada anjuran dokter. Beberapa alat
bantu tersebut seperti masker wajah yang biasanya digunakan untuk anak di bawah
usia empat tahun, inhaler dengan dosis terukur yang dapat digunakan
oleh anak-anak usia sekolah, nebulizer yang merupakan alat bantu
untuk menyemprotkan obat dalam dosis tinggi ke paru-paru. Inhaler dengan bubuk
kering digunakan untuk anak-anak di atas usia 4 tahun karena memerlukan teknik
pernapasan yang dalam.
-
Antibiotik
Anak yang menderita asma juga bisa mengalami
infeksi saluran pernapasan atas. Penggunaan antibiotik pada asma diindikasikan
pada asma yang disertai infeksi misalnya pneumonia atau ISPA karena bakteri.
Tanda-tandanya yaitu sesak napas disertai demam, warna dahak kekuningan atau
hijau kental, anak sulit makan atau minum, dan tampak gelisah. Penggunaan
antibiotik perlu disesuaikan dengan bakteri penyebab, sesuai dengan pemeriksaan
dan anjuran dokter.
-
Selain itu, menghindari pemicu, menggunakan
obat-obatan, dan mengawasi gejala asma sehari-hari adalah cara untuk
mengendalikan asma pada anak-anak dari semua usia.
Sebaiknya orangtua menjauhkan anak
dari asap rokok. Tidak merokok bukan berarti
bebas dari asap rokok. Orangtua sangat wajib mencegah si kecil terpapar asap
rokok dari perokok aktif. Hindari membawa anak ke tempat yang bebas untuk
merokok. Orangtua juga bisa memberikan pendidikan soal rokok sejak dini pada
anak. Meskipun anak masih duduk di bangku taman kanak-kanak atau sekolah dasar,
ibu atau ayah sebaiknya terus mengingatkan anak apa saja dampak negatif merokok
dan sebaiknya menjauhi para perokok saat sedang merokok agar tak terpapar asapnya.
Komentar
Posting Komentar